Kepergian
Merry merupakan satu pukulan berat. Bukan hanya bagi keluarganya, tapi juga
kami teman-temannya. Merry di mata kami adalah orang yang sangat baik. Maka bukanlah
hal aneh bila kami merasa sangat kehilangan.
++++++
Baca
juga cerita sebelumnya: Kabar Duka #1
++++++
Hingga
keesokan harinya, saya belum bisa berangkat ke Pati. Sedang hati sudah sangat
tidak sabar untuk segera pergi.
Sementara
di timeline FB, ucapan doa terus mengalir untuk Merry. Demikian juga di
grup WA. Dari media sosial ini pula kami akhirnya tahu beberapa hal terkait
penyakit Merry. Sebelum meninggal, ternyata Merry telah menjalani kemo yang
pertama.
Lagi-lagi
muncul pertanyaan: kenapa Merry tidak pernah memberitahu hal ini kepada kami? Atau
mungkin dia tidak ingin kami mengkhawatirkannya? Entahlah.
Kalau
tidak salah ingat, sekitar akhir September atau awal Oktober, Merry minta doa
melalui WA. Dia bilang sedang sakit di rs. Tapi dokter belum bisa mendiagnosa,
begitu dia cerita. Saat itu kebetulan saya tidak terlalu aktif di grup. Ketika buka
WA, pesan di grup sudah ratusan. Jadi saya baca sekedarnya.
Satu
hal yang saya ingat lagi, ketika dia muncul di grup, kata-katanya selalu
mengandung nasihat. Terutama ketika beberapa dari kami bercanda. Kami memang
memanggilnya Bu Nyai, mengingat dia juga seorang pendidik di sebuah pesantren di
Pati. Jadi, bila mengeluarkan nasihat-nasihatnya kami tidak terlalu kaget.
Tapi
begitu Merry pergi, baru saya sadari. Bisa jadi, dia memang
benar-benar mengingatkan dan menasehati kami. Bisa jadi pula, Merry sudah
merasa umurnya tidak lama lagi. Maka, dia berusaha apa yang keluar dari lisannya
sesuatu yang bermanfaat, bukan kesia-siaan.
Merry
memang dikenal sebagai pribadi yang bukan saja baik. Tapi juga ibadahnya
kenceng. Tak berlebihan bila dia disebut shalihah.
Ketika
menjalani kemo pertama di sebuah rs di Semarang itu, Merry ketemu Farika, salah
satu teman kami yang baru melahirkan di rs yang sama. Kata Farika, Merry sempat
cerita, meski kondisi sakit, Alhamdulillah setiap setengah 2 malam dia masih
bisa shalat tahajud.
Aah,
sungguh cerita yang menohok hati saya. Betapa tidak, saya yang sehat wal afiat sering
abai soal shalat tahajud. Sedang Merry, bahkan dalam kondisi dikemo, dia tetap
menjalankan ibadah sunah yang sudah jadi rutinitasnya itu. Sejak sekolah dulu dia memang rajin tahajud.
Masih
menurut Farika, kondisi fisik Merry saat itu tidak seperti orang sakit. Segar bugar.
Dokter yang menanganinya pun sampai terheran-heran. Bisa jadi inilah balasan
Allah untuk hamba-Nya yang beriman. Merry diberi sakit tapi seperti tidak
sakit. Dia diberi keistimewaan tersebut karena dia telah mengistimewakan Allah.
Allah yarhamuki, yaa Merry.
Merry
juga berencana istirahat di rumah Farika yang dekat dengan rs saat kemo kedua
nanti. Tapi sayang. Sebelum kemo kedua, Merry keburu dipanggil Kekasih
Sejati-nya.
Allahummaghfirlaha
warhamha wa ‘aafiha wa’fu ‘anha, aamiin.
-bersambung-

Innalillahi wa innailaihi roji'un, saya turut berduka cita Vhoy
BalasHapusTrimakasih Mak Ira
HapusInnalillahi wa innailaihi roji'un, saya turut berduka cita Vhoy
BalasHapusinnalillahi wainailahi rojiun, selamat jalan Merry semoga amal ibadahnya diterima di sisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dalam menerima cobaan ini, amin..
BalasHapusAamiin
HapusInnalilaaah... semoga amal ibadahnya Mba Mery diterima Allah SWT.
BalasHapusInnalilahi wa inna ilaihi roji'un....semoga mb Merry mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT... aamiin
BalasHapusAl fatekhah untuk almarhurmah Mery ya Vhoy
BalasHapusMoga keluarga yang ditinggalkan tetap tawakal, aamiin
Allahummaghfurlahaa, warhamhaa, wa"afihi wa'fuanhaa... Sangat sedih membacanya. Kepergian sahabat seperti hilang separuh nyawa. Ia punya tempat tersendiri dalam hati. Semoga Allah SWT mengumpulkan kalian lagi dalam syurgaNya kelak, amiin ya Rabb...
BalasHapusAl fatihah utk Merry almarhumah
BalasHapussemoga mendapat tempat yg terbaik di sisi Allah, diampuni dosanya
diterima amal sholihnya, amiin
Semoga keluarga dan teman yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan ya mba Vhoy :)..
BalasHapus